Perlu Menjadi Ummat Washata

            Umat washat atau sering disebut sebagai umat penengah adalah merupakan bagian dari mission secred, di samping sebagai saksi atas manusia dan saksi atas Allah SWT yang adil, fair, objektif dan hanif (penuh kerinduan dan penuh keberpihakan kepada yang benar).[1]

            Di dalam surah Al-Baqarah ayat 143, Allah SWT berfirman:

            “Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan[2]agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.

Kata washata disebut lima kali dalam Al-Qur’an. Semua kata washata bermakna tengah atau moderat. Berkenaan dengan makna washata ini, Al-Raghib Al-Isfahani menyatakan, sebagai sesuatu yang berada dipertengahan yang kedua ujungnya pada posisi sama.Dengan demikian ketika disebut ummatan washatan itu artinya umat yang moderat atau umat yang berada dipertengahan. Posisi pertengahan mengandung makna tidak memihak ke kiri dan ke kanan. Tentu saja makna kiri dan kanan bukan sekedar arah, tetapi bisa idiologi, pemikiran atau sistem lainnya.[3]

Agaknya yang paling menarik dicermati pesan Allah SWT berkaitan dengan posisi tengah ini.  Posisi tengah akan membuat setiap orang dapat berlaku adil. Keadilan sering tidak dapat ditegakkan, karena orang yang dipercaya untuk membuat keputusan tidak berada di posisi tengah. Jauh-jauh hari ia telah mengambil posisi kanan atau kiri. Namun lebih penting dari itu, mengambil posisi tengah membuat kita dapat melihat sesuatu dari berbagai sisi. Posisi tengah membuat kita dapat melihat dari jarak yang sama. Dalam posisi inilah kesaksian kita terhadap manusia menjadi penting karena cara pandang kita yang menyeluruh dan integral.

Ketika memahami ayat di atas, Cak Nur mengatakan, “menjadi saksi atas umat manusia, artinya kita harus mampu menempatkan diri begitu rupa dalam menilai umat manusia, sehingga kita bisa melihatnya secara adil[4]. Oleh sebab itu dalam melihat sesuatu kita tidak boleh dikuasai oleh apriori atau sikap suka-tidak suka. Dominasi sikap suka-tidak suka membuat kita akan mengabaikan substansi. Kita lebih mementingkan bejananya ketimbang isinya. Oleh sebab itu sikap adil, moderat dan adil menjadi niscaya. Sebab, keadilan bagian dari takwa.

Untuk memberi gambaran yang lebih utuh ada baiknya beberapa pandangan mufassir layak dikutip di sini. Berkenaan dengan ummatan washatan, Abdullah Yusuf Ali mengatakan esensi ajaran Islam adalah menghilangkan segala bentuk ekstrimitas dalam berbagai hal. Selanjutnya Muhammad Iqbal menafsirkan makna washatan itu dalam konteks etika Yahudi yang terlalu legal-formal sehingga cenderung keras, dan etika Nasrani yang terlalu spritual dan lemah lembut. Etika Islam itu berada di tengah-tengah sebagai posisi yang terbaik.[5]

Tidak kalah menariknya penafsiran yang diberikan oleh Sayyid Quthub yang meninjaunya dari sudut pandang ekonomi. Menurutnya, Islam berada di tengah antara sistem kapitalisme dan komunisme- sosialisme. Jika kapitalisme tertalu mengagungkan hak milik pribadi –untuk menyebut contoh- dan sosialisme lebih menekankan kolektifitas (komunalisme) maka Islam berada ditengahnya. Islam mengakui hak milik pribadi dan pada saat yang sama Islam juga sangat memperhatikan tanggungjawab sosial.[6]

Dari penjelasan di atas, masyarakat ideal yang diungkap Al-Qur’an dengan kata ummatan washatan adalah masyarakat harmonis atau masyarakat yang berkeseimbanan, masyarakat yang moderat.

                [1] Budhy Munawwar Rachman, Ensiklopedi Nurcholish Madjid, (Mizan: Bandung, 2007) Jilid IV, hal. 3536

                [2] Umat Islam dijadikan umat yang adil dan pilihan, Karena mereka akan menjadi saksi atas perbuatan orang yang menyimpang dari kebenaran baik di dunia maupun di akhirat.

                [3]Ali Nurdin, Qur’anic Society: Menelusuri Konsep Masyarakat Ideal dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Erlangga, 2007), h. 104-108.

[4] Ada temuan menarik dari seorang ahli bahasa asal Baghdad yang hidup sekitar 1000 tahun lalu. Dalam satu buku tebalnya mengenai kata-kata asing yang masuk ke dalam bahasa Arab, dinyatakan bahwa salah satu istilah dalam Al-Qur’an tentang keadilan atau tengah yaitu al-qisth, ternyata berasal dari bahasa Yunani yang nantinya menjadi kata justice (Inggris). Azhar Akmal Tarigan. Revitalisasi NDP HMI Dalam Dinamika Aliran Keagamaan di Indonesia dan Reposisi Kader sebagai Ummatan Washatan. (Makalah yang di sampaikan pada seminar 61 tahun HMI :BADKO HMI Riau-KEPRI, 1 Maret 2008)

                [5] Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur’an: Text, Translation and Commentary, Vol. I-II, (Mekah: Muslim World League, 1978)  h. 58. lihat juga Muhammad Iqbal.Rekonstruksi Pemikiran Islam. (Jakarta:Logos Wacana Ilmu,1999).h. 70

                [6] Ali Nurdin, Qur’anic Society: Menelusuri Konsep Masyarakat Ideal dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Erlangga, 2007), h. 104-108.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>